Electronic commerce atau e-commerce terus tumbuh. Pertumbuhan ini dipicu oleh semakin banyak orang yang menggunakan perangkat bergerak, seperti telepon seluler pintar dan computer tablet, yang mampu terhubung dengan internet secara cepat.
E-commerce pada dasarnya adalah tok0 online. Seperti took tradisional, took online juga menjual barang untuk kebutuhan sehari-hari, mulai barang elektronik hingga perlengkapan rumah tangga. Bedanya, semua barang ditampilkan di dunia maya.
Ada sisi baik dan buruk dalam berbelanja ataupun berjualan secara online lebih mudah, murah, dan tak membuang waktu untuk pergi ke toko yang jaraknya bisa lebih dari 5 kilometer. Semua bisa dilakukan, semisal dari kamar tidur.
Namun sisi buruknya adalah keamanan berbelanja secara online tidak bisa dijamin 100 %. Kejahatan dunia maya selalu mengincar e-commerce. Apalgi pembayaran biasanya dilakukan dengan menggunakan kartu kredit.
Informasi penting kartu kredit ataupun data pribadi lainnya dapat dengan mudah dicuri oleh para peretas. Kalau sudah begitu, kerugian pasti harus ditanggung sendiri oleh konsumen. Ironisnya, meski keamanan menjadi momok dalam dalam dunia e-commerce, toh pertumbuhannya tetap luar biasa. Bahkan kecenderungan pertumbuhannya selalu positif.
Di kawasan Amerika dan Eropa, misalnya, diprediksi pada 2015 nilai belanja komersial secara online akan mencapai US$ 279 miliar atau sekitar Rp 2.650 triliun di Amerika dan US$ 134 miliar atau sekitar Rp 1.273 triliun di Eropa.
Di Indonesia, nilai transaksi e-commerce memang masih kecil. Menurut hasil riset Daily Social-Veritranspada Agustus lalu, nilainya hanya US$ 0,9 miliar atau sekitar Rp 9,7 triliun. Jauh bila dibandingkan dengan Amerika atau Eropa. Sedangkan pada 2015 diproyeksikan mencapai US$ 10 miliar.
Gurihnya bisnis toko online di dunia maya ini ternyata mengundang para pelaku toko tradisional untuk menggelutinya juga. Inilah yang kemudian memicu pertumbuhan luar biasa dari e-commerce.
Jika dicermati lebih jauh, Facebook dan Twitter juga menjadi pendorong pertumbuhan yang tinggi ini. Kedua situs jejaring social ini menjadi media pemasaran yang cukup efektif untuk member tautan ke toko online.
Koneksi internet yang terus membaik kini dikenal dengan dengan jaringan 4G atau LTE bisa dibilang sebagai salah satu faktor pembangkit pertumbuhan toko online juga. Setiap tahun, di Amerika, jumlah konsumen baru yang melakukan belanja online terus meningkat. Mereka berpendapat bahwa cara ini lebih efektif dan efisien.
Sebagai contoh, untuk membandingkan harga dari satu toko ke toko lain di dunia maya cukup dengan satu atau dua kali klik. Sangat mudah. Bandingkan dengan di dunia nyata jika ingin melakukan sesuatu hal serupa. Pasti banyak waktu yang terbuang.
Secara umum, toko online memiliki masa depan yang sangat cerah. Tapi tentunya orang perlu terbiasa dengan gaya hidup baru ini, terutama kalangan usia tua dan mereka yang bermukim di luar kota besar dengan akses internet masih sangat terbatas. Mereka semua perlu edukasi tentang belanja secara online.
Source : Firman Atmakusuma, Wartawan Tempo
Leave a Reply