<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Balina Internet Marketing Pendidikan Bisnis Online</title>
	<atom:link href="http://www.thebalina.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.thebalina.com</link>
	<description>Solusi Cerdas Meningkatkan Profit Produk dan Jasa Anda Melalui Internet</description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 Mar 2013 13:45:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
<image>
<link>http://www.thebalina.com</link>
<url>http://www.thebalina.com/wp-content/mbp-favicon/logo1.jpg</url>
<title>Balina Internet Marketing Pendidikan Bisnis Online</title>
</image>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Profil Usaha : SETENGAH ABAD TAS ELIZABETH</title>
		<link>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-setengah-abad-tas-elizabeth</link>
		<comments>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-setengah-abad-tas-elizabeth#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Mar 2013 13:45:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing Creative]]></category>
		<category><![CDATA[Mengantar UMKM Menembus Pasar Global]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonial UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[Tas Elizabeth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.thebalina.com/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[SETENGAH ABAD TAS ELIZABETH Handoko Subali (85) dan Elizabeth Halim (72) tidak pernah bermimpi usaha tas Elizabeth yang mereka rintis tahun 1963 berkembang pesat dan mencapai usia 50 tahun pada tahun ini. Dan kini, gerai tas Elizabeth tersebar di sejumlah kota di Indonesia, hampir di semua ibu kota provinsi di negeri ini. Jika pada awalnya [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>SETENGAH ABAD TAS ELIZABETH</h2>
<p>Handoko Subali (85) dan Elizabeth Halim (72) tidak pernah bermimpi usaha tas Elizabeth yang mereka rintis tahun 1963 berkembang pesat dan mencapai usia 50 tahun pada tahun ini. Dan kini, gerai tas Elizabeth tersebar di sejumlah kota di Indonesia, hampir di semua ibu kota provinsi di negeri ini.</p>
<p>Jika pada awalnya Handoko memasarkan sendiri tas dengan naik sepeda dari toko ke toko di Bandung, kemudian naik bus dari kota ke kota di Jawa, dan mempekerjakan salesman, mulai 1966 tas Elizabeth dipasarkan dengan membuka cabang dan gerai ritel di banyak mal di sejumlah kota di Indonesia.</p>
<p>Tahun 1962, kehidupan ekonomi keluarga baru itu sulit. Handoko mencari modal usaha dengan meminjam uang dari teman baiknya. Dia juga mendapat modal tambahan hasil arisan teman-teman ayah Elizabeth.</p>
<p>Modal mereka saat itu hanya satu, mesin jahit dan sepeda kumbang. Dengan sepeda itulah, Handoko menawarkan tas dari toko ke toko di Jalan Otista dan jalan Kosambi (jalan Ahmad Yani). Mereka menyewa rumah di jalan Kebon Tangkil, Gardujati.</p>
<p>Sejak kecil, Elizabeth suka menjahit baju. Ia berpikir membuat tas tidak beda jauh dengan menjahit baju. Jadi, ia tidak kesulitan memulai usaha tas.</p>
<p>Handoko dan istri memilih tas perjalanan (travel bag) sebagai tas pertama yang diproduksi. Tahun 1963, pesanan tas sekitar dua lusin sehari dan dikerjakan tiga orang. Akhir tahun 1963, pesanan tas sekitar dua lusin sehari dan dikerjakan tiga orang. Akhir tahun 1963, produksi rata-rata enam lusin sehari dengan delapan tenaga kerja.</p>
<p>Tahun 1965, pasangan ini pindah ke rumah sendiri di Kalipah Apo. Saat itu, jumlah karyawan 15 orang dan mereka diperlakukan sebagai anak asuh. Setiap anak asuh diberi satu mesin jahit, bahan baku, dan aksesorinya.</p>
<p>Satu anak asuh rata-rata bisa menghidupkan lima orang karena mereka dibantu istri, anak dan saudara. Setelah selesai membuat tas, mereka mendapat upah. Tiga-empat hari kemudian, mereka mengambil lagi bahan mentah. Tas-tas tersebut belum diberi merek.</p>
<p>Akhir tahun 1968, mereka menggunakan merek Elizabeth karena mudah diingat. Merek Elizabeth pun dipatenkan, bukan hanya pada tas bermerek Elizabeth, melainkan juga pada nama took yang beroperasi tahun 1974.</p>
<p>Salah satu rahasia sukses tas Elizabeth adalah penggunaan bahan tas yang tidak ada di pasaran Indonesia sehingga perusahaan lain sulit meniru</p>
<p>Sejak tahun 1972, Handoko dan Elizabeth ke Hongkong dan Singapura untuk mengikuti tren tas terkini. Kini, aktivitas ini dilanjutkan putri mereka, Lisa Subali.</p>
<p>Tahun 1972, keluarga Handoko pindah ke jalan Otista. Produksi di Otista sebanyak 60 lusin per hari dikerjakan sekitar 100 anak asuh.</p>
<p>Tahun 1985, Handoko dan Elizabeth membeli tanah di Leuwigajah di kawasan industri Cimahi-Cimindi. Dua tahun kemudian, pabrik beroperasi. Mereka ingin memiliki satu tempat di mana semuanya dikerjakan dengan pengawasan yang baik. Jumlah karyawan saat itu 150 orang. System anak asuh bertahap dikurangi.</p>
<p>Sejak tahun 1980 an banyak pembeli termasuk duta besar dan diplomat, datang ke Bandung. Salah satunya mengunjungi ruang pamer toko tas Elizabeth di jalan Otista. Harga tas ditawar dengan harga grosir.</p>
<p>Untuk memperluas pemasaran, tahun 1982 mereka membangun gerai berlantai tiga di jalan otista. Dan tahun 1997, mereka membangun ruang pamer berlantai lima di jalan Inggit Ganarsih.</p>
<p>Tahun 1998, saat krisis ekonomi, usaha tas Elizabeth tidak terkena dampak serius. Mengapa? Saat merintis usaha, mereka tidak meminjam uang ke bank, apalgi dalam bentuk dollar AS. “Punya uang berpa, itu yang dipakai berdagang,” kata Elizabeth.</p>
<p>Tak meminjam uang bank karena sesungguhnya Handoko tak berambisi besar. Mereka berdagang tidak melebihi jumlah uang yang dimiliki. Handoko tidak punya utang ke bank. Mereka hanya punya utang dagang ke pemasok yang dibayar sebulan sampai dua bulan sekali. Karena tertib membayar, Handoko dan Elizabeth selalu menjadi pengusaha pertama yang ditawari bahan baku yang bagus.</p>
<p>Elizabeth Halim mengungkapkan, salah satu kunci sukses usaha tas Elizabeth adalah tepat waktu membayar. Hal itu dilakukan mereka sejak tahun 1963.</p>
<p>Kunci sukses lain adalah sejak awal Elizabeth memproduksi tas dengan harga terjangkau . karena itu ia tidak mau menggunakan kulit asli, tetapi menggunakan kulit imitasi. Meski imitasi, tas ini tetap mempertahankan kualitas dan selalu mengikuti tren terkini.</p>
<p>Keluarga Subali tidak hanya fokus pada produksi tas perempuan, tetapi juga tas kosmetik, tas perjalanan, tas kerja, dompet dan ransel.</p>
<p>Harga tas Elizabeth saat ini berkisar Rp 150.000 dan Rp 300.000. Lebih dari 60 % produk adalah tas perempuan multifungsi, bisa digunakan ke kantor sekaligus untuk jalan-jalan. Tas Elizabeth juga membuat produk terbatas, eksklusif, unik dan trendi.</p>
<p>Lisa tidak khawatir apabila desain tas dicontek. “Desain itu universal. Dipatenkan pun tidak bisa,” katanya.</p>
<p>Bagaimana jika tenaga kerja dibajak? “Sudah banyak tenaga kerja Elizabeth dibajak, tetapi kami tidak pernah khawatir. Malah kami bangga dapat mencetak banyak bibit dan senang mereka, yang pernah bekerja di tas Elizabeth, maju,” kata Lisa. Saat ini jumlah karyawan di pabrik 800 orang.</p>
<p>Bagaimana sampai bisa bertahan hingga setengah abad? “Yang harus selalu dipertahankan adalah semangat untuk terus berkarya dan berusaha,” kata Handoko.</p>
<p>Elizabeth Halim yakin,”Tak ada yang tak bisa dikerjakan,” Pedoman inilah yang membuat tas Elizabeth terus berkembang.</p>
<p>Handoko mengaku sudah puas dengan apa yang dicapai perusahaan yang didirikannya 50 tahun silam. Ia menyerahkannya kepada anak-anak dan cucu-cucu untuk mengembangkan usaha. Yang penting mereka sudah dibekali pendidikan maksimal. “Empat anak yang meneruskan usaha selalu kompak. Perusahaan akan tetap sehat dan bugar di usia senja? “Saya menikmati masa tua. Pagi-pagi saya jogging berkeliling lapangan Tegallega lima kali. “Aktivitas sehari-hari, membaca koran,, tetap latihan menulis huruf kanji dan suka membuat sajak filosofi,” kata Handoko.</p>
<p>Handoko pernah menjabat Presiden Komunitas Marga Lie sedunia, juga sewilayah Kota Bandung dan Chairman Yayasan Sosial Dana Priangan selama tiga periode. Handoko pernah meraih penghargaan Upakarti tahun 1998 sebagai Bapak Peduli Industri Kecil.</p>
<p>Elizabeth Halim pernah terpilih sebagai salah satu Kartini Indonesia tahun 1995 bersama 20 perempuan Indonesia lainnya.</p>
<p>Sumber :       Kompas, 2 Maret 2013</p>
<p>Robert Adi KSP</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://onlywire.com/btn/button_75104" title="Profil Usaha : SETENGAH ABAD TAS ELIZABETH" url="http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-setengah-abad-tas-elizabeth"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-setengah-abad-tas-elizabeth/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profil UMKM PERHIASAN ETNIK ala YULI</title>
		<link>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-umkm-perhiasan-etnik-ala-yuli</link>
		<comments>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-umkm-perhiasan-etnik-ala-yuli#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2013 08:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Mengantar UMKM Menembus Pasar Global]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonial UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[aksesori perhiasan etnik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.thebalina.com/?p=542</guid>
		<description><![CDATA[Mengikuti panggilan hatinya, Yuli Wijayasari (37) memilih menekuni dunia pembuatan perhiasan atau aksesori. Yuli pun kemudian meninggalkan pekerjaan yang telah 16 tahun ia tekuni sebagai asisten apoteker di sebuah apotek di Solo, Jawa Tengah. Dengan begitu, ia bisa lebih fokus terjun mengurusi usaha kreatif pembuatan aksesori. Awalnya Yuli hanya sekedar memanfaatkan waktu luang di luar [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Mengikuti panggilan hatinya, Yuli Wijayasari (37) memilih menekuni dunia pembuatan perhiasan atau aksesori. Yuli pun kemudian meninggalkan pekerjaan yang telah 16 tahun ia tekuni sebagai asisten apoteker di sebuah apotek di Solo, Jawa Tengah.</p>
<p>Dengan begitu, ia bisa lebih fokus terjun mengurusi usaha kreatif pembuatan aksesori. Awalnya Yuli hanya sekedar memanfaatkan waktu luang di luar jam tugasnya sebagai asisten apoteker untuk membuat<em> aksesori</em> dari materi plastik yang lalu dijual kepada teman-teman dekat.</p>
<p>Respon positif membuatnya kian bersemangat. Yuli memperluas pemasaran antara lain ke sebuah pusat grosir dan beberapa butik. Yuli melirik potensi batu alam sebagai pengganti plastik agar aksesorisnya berpenampilan unik dan berkelas. Ia juga menggunakan logam, kayu dan tulang yang dirangkai menjadi kalung, gelang, anting hingga ikat pinggang.</p>
<p>Yuli menggunakan label Abel’s untuk kreasi aksesorisnya. Nama ini diambil dari nama panggilan anak semata wayangnya, Dhigma Putri Sabila, yang kini duduk di kelas II sekolah menengah atas.</p>
<p>Kini Yuli lebih memilih logam, kuningan dan tembaga yang dipatri, tatah atau etsa sebagai material aksesoris kreasinya. Produknya saat ini lebih banyak dalam bentuk kalung, gelang, bros dan kepala ikat pinggang. Cincin dan anting-anting dibuat berdasarkan pesanan.</p>
<p>Ia pernah menerima pesanan dari beberapa desainer busana terkemuka untuk membuat aksesoris guna melengkapi  busana yang akan diperagakan. Selain itu Yuli juga pernah mengerjakan pesanan berupa semacam korset dari logam kuningan yang kemudian dipakai seorang penyanyi untuk sebuah konsernya tahun 2012.</p>
<p>Yuli pernah pula membuatkan topi pesanan seorang mahasiswa sekolah desain di Malaysia berbentuk sarang burung terbalik. Aksesoris karya Yuli juga pernah dibeli seorang pengusaha kosmetik terkenal lainnya. Selain itu, aksesoris juga dibeli eksportir kerajinan untuk dikirim ke Belanda dan Iran.</p>
<p>“Saya sedang menyasar pesanan seragam bros. Misalnya, untuk ibu-ibu kantor atau seragam untuk acara pernikahan,” kata Yuli, lulusan sebuah sekolah menengah farmasi di Solo beberapa waktu lalu.</p>
<p>Yuli sempat membuka gerai di mal, tetapi kini lebih banyak mengandalkan berbagai peran yang dia ikuti. Lewat pameran, selain bisa menjual karyanya Yuli juga menjalin jaringan dengan beragam pembeli. Dalam setahun ia bisa mengikuti lima-enam kali pameran dari Jakarta dan kota-kota besar di Jawa hingga Kalimantan dan Sulawesi. Yuli juga pernah mengikuti pameran di Malaysia. Pameran besar terakhir yang dia ikuti adalah Mutumanikam Nusantara Indonesia 2012 di Jakarta bulan November lalu.</p>
<p>Untuk membedakan produknya dari yang lain, Yuli memilih nuansa etnik dan eksotik untuk desain aksesoris. Ia memanfaatkan buku, majalah, televisi dan masukan dari pembeli untuk bentuk, motif dan rancangannya.</p>
<p>“Awalnya saya merangkai rantai dengan manik-manik dari kayu, logam, batu alam, dan sedikit dari bahan plastik. Kini banyak yang membuat hal serupa. Saya sekarang mengurangi penggunaan manik-manik diganti olahan lempeng logam,” kata Yuli.</p>
<p>Kkknya sekarang berupa kalung dengan liontin lempeng logam berukuran besar, berbentuk lingkaran, air mata, atau bulan sabit yang dipadu dengan batu alam seperti akik (agate), obsidian dan oniks. Sebagian besar batu alam ia peroleh dari Pacitan, Jawa Timur. Batu alam itu dipotong sesuai bentuk yang diinginkan lantas diasah.</p>
<p>Yuli memanfaatkan pekerja di tempat usaha ayahnya, Joko Prihatmoko di Kedung Lumbu, Solo yang melayani jasa pemotongan, pengasahan dan pembentukan batu alam. Batu yang telah diasah lantas ditempel di atas logam yang telah diolah atau dijadikan liontin utama dengan logam sebagai ornament sekaligus pengikat batu.</p>
<p>“Kita harus terus berinovasi dan tampil beda dari yang lain agar produk kita punya cirri khas, selain mengikuti tren. Misalnya, saat ini pilihan saya pada kalung dengan liontin atau bros berukuran besar atau gelang lebar,” kata Yuli.</p>
<p>Liontin kalung, bros dan gelang logam dibuat dari lembar kuningan atau tembaga yang kemudian diolah dengan cara ditatah, etsa atau patri kemudian disepuh dengan warna emas atau perak. Prosesnya dikerjakan secara manual. Nilai ekonomi perhiasan jenis ini lebih tinggi ketimbang produknya terdahulu. Jika dulu harga aksesoris karyanya  dijual seharga Rp 10.000-Rp 75.000 per item, kini karyanya dijual mulai Rp 75.000 hingga jutaan rupiah per item.</p>
<p>Jka dulu hanya dibantu tiga pekerja yang bertugas merangkai manik-manik, kini Yuli dibantu lima pekerja yang bertugas menggergaji, menatah dan mematri di bengkel kerja yang terletak di kampung Cengklik, Nusukan, Banjarsari, Solo.</p>
<p>Suaminya, Gatot Santoso, pun sejak tahun lalu memilih ikut menekuni duna aksesoris ini dan meninggalkan bisnis sebelumnya di bidang komputer. Keduanya bekerja sama mengurusi desain, pemasaran hingga produksi.</p>
<p>Dalam sebulan rata-rata Yuli bisa menghasilkan 100 item aksesoris beragam jenis. Pembuatan dengan teknik patri memakan waktu paling cepat seminggu, misalnya sebuah bros tembaga berbentuk lingkaran berdiameter 8 cm. bros yang kemudian disepuh warna emas itu dijual seharga Rp 350.000 per buah.</p>
<p>Sumber: Kompas 23 Februari 2013</p>
<p>Sri Rejeki</p>
<p>&nbsp;</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://onlywire.com/btn/button_75104" title="Profil UMKM PERHIASAN ETNIK ala YULI" url="http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-umkm-perhiasan-etnik-ala-yuli"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-umkm-perhiasan-etnik-ala-yuli/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profil Usaha : “Cahaya “ Produk Laut</title>
		<link>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-cahaya-produk-laut</link>
		<comments>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-cahaya-produk-laut#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2013 05:02:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing Creative]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonial UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[Produk Laut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.thebalina.com/?p=538</guid>
		<description><![CDATA[Begitu menyelesaikan studinya di Jurusan Teknk Mesin Universitas Glasgow, Inggris, Gindra Tardy (51) bekerja di perusahaan elektronik di Singapura. Pekerjaan itu ia tinggalkan saat orangtuanya memintanya pulang ke Medan, Sumatera Utara. Kepulangan itu ternyata membawanya mendirkan perusahaan eksportir produk laut yang sejatinya jauh dari bidang studinya di bagian mesin. Berdirilah PT Toba Surumi Industries. “Membangun [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu menyelesaikan studinya di Jurusan Teknk Mesin Universitas Glasgow, Inggris, Gindra Tardy (51) bekerja di perusahaan elektronik di Singapura. Pekerjaan itu ia tinggalkan saat orangtuanya memintanya pulang ke Medan, Sumatera Utara.</p>
<p>Kepulangan itu ternyata membawanya mendirkan perusahaan eksportir produk laut yang sejatinya jauh dari bidang studinya di bagian mesin. Berdirilah PT Toba Surumi Industries.</p>
<p>“Membangun perusahaan itu seperti masuk terowongan. Awalnya gelap dan saya hanya bisa meraba-raba, tidak tahu ada lubang di depan kita. Tapi saya maju terus. Pernah terperosok, tapi bangun lagi. Lama-lama muncul cahaya samar-samar,” tutur Gindra di kantornya yang sangat sederhana untuk ukuran seorang direktur di Kawasan Industri Medan, Belawan, pekan lalu.</p>
<p>Ruangan sekitar 3 x 3 meter itu hanya berisi meja dan kursi kerja. Lukisan kruistik tiga ekor ikan buatan keponakan Gindra terpasang di belakang meja kerja. TV layar datar 24 inci di sudut yang menyiarkan channel Asia news jadi terlihat mewah.</p>
<p>Selepas tujuh tahun tinggal di Singapura, bapak tiga anak itu kembali ke Medan dan bekerja sebagai kepala bengkel perusahaan eksportir produk laut milik pengusaha asal Malaysia. Karena jago bahasa Inggris, ia ditarik ke bagian pemasaran. “Padahal saya tidak tahu soal pemasaran,” katanya.</p>
<p>Namun karena memang hobi belajar, Gindra pun bisa menjalankan tugas itu. Dia menjadi direktur pemasaran perusahaan selama bertahun-tahun.</p>
<p>Suatu hari datang pembeli dari Amerika Serikat menyatakan tertarik untuk bekerja sama. Sang pembeli diajaknya berkeliling ke daerah-daerah produksi ikan di Tanah Air. Dalam rapat perusahaan ia melemparkan ide untuk memproduksi pesanan sang pembeli. Ia menyangka seluruh peserta rapat menyetujui usulnya sehingga ia memesan  mesin produksi. Ternyata pemegang saham tidak setuju. Pemegang saham bahkan mempertanyakan otoritasnya melakukan pemesanan mesin.</p>
<p>Mesin yang datang akhirnya ia ambil alih. “Saya sudah komitmen kepada pihak luar maka mesin saya ambil alih. Saya kumpulkan uang dari orangtua dan saudara untuk membeli mesin itu. Ada beberapa ratus juta,”katanya. Ia sewa tempat dan mulai berproduksi.</p>
<p>“Mesin bisa jalan satu line,” katanya. Ia sewa tempat dan mulai berproduksi.</p>
<p>Ternyata si pembeli dari Amerika Serikat itupun tak cukup modal untuk menjalankan usahanya sehingga tak bisa terus membeli produk Gindra. Selama satu tahun Gindra mengaku masuk terowongan gelap. Tak tahu arah, masuk lubang, luka dan lecet.</p>
<p>“Ada sedikit kalkulasi yang membuat kami optimis bisnis bisa jalan. Tapi satu tahunlah kami merasakan masuk terowongan gelap,” kata dia.</p>
<p>Awalnya, Gindra memproduksi 24 ton rajungan kemasan per bulan untuk diekspor ke AS. Satu pembeli gagal, ia mendekati pembeli lain. Begitu seterusnya sehingga produksi bisa terus berjalan. “Ada sifat risktaker (ambil resiko) yang saya miliki,”cerita Gindra.</p>
<p>Ia juga banyak belajar dari orang tuanya yang sekian lama menjadi eksportir produk mebel. Suatu yang ia tangkap yakni selalu tetap tekun menjaga kualitas produk.</p>
<p>Gindra pun mulai mengajak teman-temannya di perusahaan lama untuk bergabung. Dia juga merekrut karyawan baru. Meskipun izin perusahaan didapat sejak tahun 1997 dan telah berproduksi , ia baru tangani penuh di PT. Toba Surimi Industries tahun 2005.</p>
<p>Perusahaan berkembang dan bisa mendirikan perusahaan eksportir produk laut kemasan sejenis di Cibubur (Jawa Barat), Makasar (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan) dan Bitung, namun dengan nama berbeda. “Tiap tahun keuntungan perusahaan kami investasikan lagi,” kata dia.</p>
<p>Gindra mendapatkan bahan baku dari dalam negeri, khususnya hasil laut dari Selat Malaka. “Ada pemasok yang rutin mengirimkan bahan baku ke kami,”jelasnya. Pemasok itu yang mengumpulkan bahan baku dari nelayan secara berkesinambungan.</p>
<p>Meski para pemasok sudah paham dengan kualitas yang dibutuhkan, namun ada stafnya yang terus mengecek kualitas bahan baku.</p>
<p>Saat wawancara Gindra sempat memeriksa sejumlah ikan tuna merah segar yang disodorkan stafnya. “Ini tuna segar yang bakal diproses dan akan dikalengkan,” ujarnya.</p>
<p>Ia kini memproduksi puluhan produk hasil laut kemasan, seperti rajungan, udang, sotong, gurita dan tuna untuk ekspor ke Amerika Serikat, Kanada, Jepang dan Negara-negara Eropa Barat. Per bulan perusahaan memproduksi 260 ton produk ikan kemasan dengan nilai 2 juta dolar AS. Sekitar 800 karyawan terlibat di sini.</p>
<p>Krisis yang melanda Eropa dan AS membuatnya melebarkan sayap ke Timur Tengah, China dan Eropa Timur. Ekspor perdana ke Timur Tengah bahkan dilakukan Menteri Kelautan dan perikanan Syarif C Sutardjo beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Penyambutan Pak menteri pun dilakukan sederhana. Tak ada deretan papan bunga yang bisanya muncul saat penyambutan seorang menteri di Kota Medan. Tak ada pidato-pidato.</p>
<p>“Uang kami, kan pinjam bank, harus dikembalikan,” katanya saat ditanya bagaimana menjaga budaya sederhana di perusahaan. Apalagi ia merasa tak pernah mendapatkan fasilitas pemerintah untuk berusaha.</p>
<p>Karyawan, menurut Gindra, adalah aset berharga yang dimiliki perusahaan. Ia tidak mempermasalahkan latar belakang pendidkan, asal bisa bekerja dan hasilnya bagus. Dengan demkian, pekerja akan mendapatkan remunerasi baik pula.</p>
<p>Tidak mencoba masuk pasar lokal? Gindra mengaku mencoba membuat produk ikan kemasan dan sudah masuk ke beberapa supermarket di Jawa. Namun untuk membuat produk lain ia masih berpikir ulang.</p>
<p>“Lama sekali mengurus perizinannya, lebih setahun kami mengajukan izin belum juga selesai,” tutur dia.</p>
<p>Sumber         : Kompas 9/2/2013</p>
<p>Aufrida Wismi Warastri</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://onlywire.com/btn/button_75104" title="Profil Usaha : “Cahaya “ Produk Laut" url="http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-cahaya-produk-laut"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-cahaya-produk-laut/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha Kerajinan Lambang Negara Garuda Pancasila</title>
		<link>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/usaha-kerajinan-lambang-negara-garuda-pancasila</link>
		<comments>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/usaha-kerajinan-lambang-negara-garuda-pancasila#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2013 15:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing Creative]]></category>
		<category><![CDATA[Mengantar UMKM Menembus Pasar Global]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonial UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajinan Lambang Negara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.thebalina.com/?p=529</guid>
		<description><![CDATA[Usaha Kerajinan Lambang Negara Garuda Pancasila Empat tahun silam, Mokhamad Masdukin (39), warga Dusun Pakis Wetan, Desa Pakis, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, memulai usaha kerajinan lambang Negara Garuda Pancasila. Sebelumnya, dia membuka usaha kerajinan model makanan dari bahan “fiberglass”. Masdukin tergerak untuk membuka usaha kerajinan lambang Negara Garuda pancasila karena kecintaannya pada lambang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Usaha Kerajinan Lambang Negara Garuda Pancasila</h2>
<p>Empat tahun silam, Mokhamad Masdukin (39), warga Dusun Pakis Wetan, Desa Pakis, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, memulai usaha <strong>kerajinan lambang Negara</strong> Garuda Pancasila. Sebelumnya, dia membuka usaha kerajinan model makanan dari bahan “fiberglass”.</p>
<p>Masdukin tergerak untuk membuka usaha <em>kerajinan lambang Negara</em> Garuda pancasila karena kecintaannya pada lambang Negara itu dan keprihatinannya sebagai anak muda bangsa atas kurang pedulinya kantor-kantor instansi pemerintah dan sekolah-sekolah memajang lambang Negara Garuda pancasila. Padahal ini pengikat rasa kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><b>Kerajinan Lambang Negara dari Cinta Garuda Pancasila</b></p>
<p>“Terdorong kecintaan saya pada lambang negara Garuda pancasila yang tidak sekedar benda pajangan, saya memutuskan untuk membuka usahakerajinan lambang negara Garuda pancasila mulai tahun 2009. Usaha ini setelah usaha kerajinan model makanan (food model) saya rintis berkembang sebagai usaha ekonomi rakyat yang cukup prospektif,” kata Masdukin. Usaha model makanan ini dirintis sejak tahun 1997 dengan model pinjaman Rp 1 juta.</p>
<p>Garuda pancasila yang menjadi lambang negara Kesatuan Republik Indonesia, setidaknya menjadi peluang bisnis usaha kerajinan rakyat yang tidak saja memberikan nilai ekonomis, namun pula rasa kebangsaan kepada siapa pun anak bangsa ini yang menaruh rasa hormat atas lambang negara tersebut.</p>
<p>“Memasang lambang negara burung Garuda Pancasila pada dinding kantor, sekolah maupun rumah, sesungguhnya tidak sekedar memajang gambar, namun ada filosofinya, bahwa Indonesia adalah Negara dan bangsa yang besar yang terikat dalam Kebinekaan Tunggal Ika,” kata Masdukin, alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Al-Anwar, Mojokerto.</p>
<p>Masdukin, satu dari sedikit perajin lambang negara Garuda Pancasila merasa terpanggil hati nuraninya untuk setia menggeluti usaha kerajinan lambang negara burung Garuda Pancasila. Sejauh ini pangsa pasarnya untuk sekarang ini masih terbatas pada tiga daerah yang rawan konflik, yaitu Maluku, Papua, dan Aceh.</p>
<p>“Tiga daerah itulah yang menjadi pasar terbesar untuk lambang negara Garuda pancasila. Bahkan dua tahun lalu melalui distributor , sebulan kami mampu menjual 100 buah lambang Garuda pancasila ukuran kecil, 100-200 buah untuk ukuran sedang, dan 75-100 buah untuk ukuran besar,”katanya.</p>
<p>Adapun sekarang ini harga satu buah lambang Garuda pancasila berukuran kecil Rp 45.000 per buah, berukuran sedang Rp 60.000 per buah, berukuran besar Rp 100.000 per buah. Sebelumnya, untuk ukuran kecil harganya Rp 35.000 per buah, ukuran sedang Rp 50.000 per buah, ukuran besar Rp 75.000 per buah.</p>
<p>Sekarang ini harga bahan baku fiberglass, diantaranya resin, naik dari Rp 20.000 per kg menjadi Rp 25.000 per kg, talk bedak yang sebelumnya Rp 45.000 per kg naik menjadi Rp 70.000 per kg, katalis pengering yang semula Rp 30.000 per kg naik menjadi Rp 50.000 per kg katanya.</p>
<p>Seiring dengan kenaikan harga bahan baku dan harga jual hasil kerajinan lambang Garuda pancasila, Masdukin merasa optimistis bahwa usaha kerajinan lambang Garuda Pancasila masih punya prospek.</p>
<p>Menurut Masdukin, saatnya nanti bersamaan dengan tumbuhnya kembali kesadaran nasionalisme, lambang Garuda Pancasila bakal dirindukan kehadirannya sebagai symbol kebanggaan sekaligus pemersatu bangsa dan Negara. Lambang Garuda Pancasila kini nyaris hilang dari ruang-ruang kantor pemerintahan dan sekolah-sekolah.</p>
<p>“Kami akan jemput bola untuk memperluas pangsa pasar kerajinan lambang Garuda pancasila, khususnya di Jawa. Soalnya banyak sekali kantor-kantor pemerintah maupun sekolah-sekolah yang belum memasang lambang negara Garuda Pancasila,” katanya.</p>
<p>Kini, produksi kerajinan lambang Garuda Pancasila yang dihasilkan Masdukin dengan lima orang tenaga kerja meliputi cetak, cat, dan ampelas, berkisar 100 buah setiap bulannya. Namun, jika permintaan pesanan meningkat, Masdukin pun menambah hasil produksinya sesuai pemesan.</p>
<p>“Rutin, rata-rata sebulan 100 buah, namun kalau pesanan meningkat seperti yang pernah dua tahun lalu, kami akan melibatkan ibu-ibu rumah tangga untuk menambah tenaga ampelasnya,”kata Masdukin.</p>
<p>Sebagai perajin, Masdukin berniat menjadikan lambang Garuda Pancasila yang sakral ini tidak saja menjadi pajangan, tetapi lebih bernilai guna. Mengingat nilai historisnya yang amat tinggi dalam sejarah bangsa dan Negara Indonesia.</p>
<p>“Kalau sekarang ini lambang Garuda Pancasila hanya dipajang di dinding, kami mulai memikirkan bagaimana lambang Garuda Pancasila itu bisa dipakai pajangan lampu maupun tempat pena. Tapi, kami masih khawatir hal itu merusak kesakralan lambang Garuda Pancasila,”katanya.</p>
<p>Padahal, untuk menyiasati kebutaan sejarah, setidaknya perlu media alternatif, salah satunya melalui hasil kerajinan dan souvenir yang menarik dan memikat. “Kalau orang Indonesia sendiri tidak menghargai lambang Garuda Pancasila dan rebut kalau diambil orang lain, siapa lagi yang peduli kalau tidak kita sendiri orang-orang muda. Apalagi, kami ini lahir di tanah Majapahit  yang secara historis  mau tak mau harus melestarikan sejarah bangsa dan Negara Indonesia,” kata Masdukin.</p>
<p>Usaha kerajinan lambang negara Garuda Pancasila yang digeluti Masdukin selayaknya menjadi kekuatan ekonomi yang menyejahterakan rakyat. Namun di sisi lain, hal itu menjadi ruang menumbuhkan kembali nasionalisme melalui kepak sayap burung Garuda yang menjadi lambang negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Pasalnya, di dalam lambang negara Garuda pancasila itu tersirat pandangan hidup bangsa dan dasar Negara Indonesia dengan lima pilar sila Pancasila. Sayangnya, pandangan ini terdegradasi akibat kepentingan politik.</p>
<p>Sumber : Abdul Lathif, Kompas, 19 Januari 2013</p>
<p>&nbsp;</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://onlywire.com/btn/button_75104" title="Usaha Kerajinan Lambang Negara Garuda Pancasila" url="http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/usaha-kerajinan-lambang-negara-garuda-pancasila"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/usaha-kerajinan-lambang-negara-garuda-pancasila/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEBAYA ENCIM</title>
		<link>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/kebaya-encim</link>
		<comments>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/kebaya-encim#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 03:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Mengantar UMKM Menembus Pasar Global]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonial UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[kebaya encim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.thebalina.com/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[KEBAYA ENCIM Ketika banyak orang memodifikasi kebaya menjadi sangat modern, Henny Hasyim justru berjibaku mencari peninggalan leluhur itu ke segala pelosok negeri. Dia pun membuat duplikatnya dengan kualitas kain dan bordiran yang nyaris sama dengan aslinya. Mesin bordir yang digunakan pun masih model lama, yakni mesin pancal yang dioperasikan dengan kain. Jadi, bukan guntingan apalagi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>KEBAYA ENCIM</h2>
<p>Ketika banyak orang memodifikasi kebaya menjadi sangat modern, Henny Hasyim justru berjibaku mencari peninggalan leluhur itu ke segala pelosok negeri. Dia pun membuat duplikatnya dengan kualitas kain dan bordiran yang nyaris sama dengan aslinya.</p>
<p>Mesin bordir yang digunakan pun masih model lama, yakni mesin pancal yang dioperasikan dengan kain. Jadi, bukan guntingan apalagi tempelan.</p>
<p>Hasilnya, bordiran halus menggurat kain dan membentuk lubang motif yang rapi dan sangat mempesona. Selain itu, ada pula bordiran bunga dan motif klasik lain tanpa kerancang. Semuanya membentuk kebaya encim motif kuno yang klasik dan digarap oleh sekitar 40 perajin yang seluruhnya tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur.</p>
<h3>Desain dan Motif Kebaya Encim</h3>
<p>Desain warna dan motif <strong>kebaya encim</strong>  kuno Indonesia indah sekali. Menurut pengusaha perempuan ini,  warna dan motif kebaya encim kuno lokal sangat beda dengan kebaya encim Malaysia ataupun Singapura karena kuno lokal ada ciri khasnya, lebih simple dan kecil-kecil, tetapi justru memancarkan keagungan ketika dipakai.</p>
<p>“Pengerjaan kebaya dengan mesin saat ini jarang bisa menyamai kebaya zaman dulu. Jadi, saya tertantang untuk membuat yang sama sekaligus melestarikan budaya,” kata Henny yang mulai mengumpulkan kebaya lawas sejak lima tahun terakhir ini.</p>
<p>Kebaya-kebaya antik ini diperoleh dari mana-mana. Hasil berburu ke pasar loak atau pemberian konsumen yang puas dengan karya Henny. Bahkan ada generasi kedua atau ketiga dari pemilik <em>kebaya encim</em> membawa peninggalan itu kepada Henny untuk diduplikasi. “ Ada saja yang datang membawa kebaya encim dalam kondisi sudah robek dan minta dibuat duplikasi sebagai kenang-kenangan. Saya anggap tantangan apalagi kalau hasilnya bisa mirip dan konsumen senang,”ujarnya.</p>
<p>Jadi, karena <span style="text-decoration: underline;">kebaya encim</span> yang diberikan sudah tua, kondisinya pun kerap kali sudah rapuh dan mulai sobek, sehingga membutuhkan ketelatenan untuk mengembalikan ke bentuk asli agar mudah diduplikasi pada kain baru.</p>
<p>Henny dengan nama asli Zakiyah Handayani (47) dan pernah menjadi presenter di TVRI Surabaya ini sempat menunjukkan sekitar 100 koleksi kebaya lawasnya. Sebagian berupa kebaya renda yang diyakini hasil akulturasi dengan budaya Eropa.</p>
<p>Bisasanya kata ibu dari Nafis Arrozani (25), Nabilah Arrozini (21) dan Raisa Chilmina Arrosyada (13), kebaya yang baru diperoleh segera dicuci dan dikanji. Dengan demikian, kebaya lebih awet kendati tampak kaku. Setelah dikanji, proses duplikasi yang rumit dimulai.</p>
<p>Kain yang cocok harus dicari dulu  pembordiran dikerjakan lama pengerjaan untuk selembar <a title="kebaya encim" href="http://www.thebalina.com" target="_blank">kebaya encim</a> minimal satu minggu hingga berbulan-bulan, bergantung pada kerumitan dari bordir. Waktu penggarapan yang begitu lama, menjadi salah satu faktor Henny tidak bisa memasang target produksi. Maksimal ia hanya bisa menghasilkan 40 lembar kebaya per bulan.</p>
<p>“Menggarap bordir tidak mudah, butuh kesabaran dan ketelatenan, apalagi masih menggunakan mesin tempo dulu. Hasilnya harus benar-benar nyaris seperti aslinya. Kendala utama tidak banyak perajin yang bisa mengoperasikan mesin bordir peninggalan tempo dulu,” kata Henny yang membuka ruang pamer dan bengkel kerja di rumahnya di kawasan Serujo, Sidoarjo, Jatim.</p>
<p>Kebaya bordir yang umumnya menggunakan kain voile, paris, katun, dan sutra itu dipasarkan dengan merek Nabilah Bordir ke Bali, Jakarta, dan Surabaya. Sebagian karyanya bahkan sudah menjajal pasar untuk konsumen di Jerman, Belanda, Jepang dan Amerika. Harga hasil karya Henny bersama perajin bervariasi mulai Rp 500.000 sampai Rp 3 juta.</p>
<p>Promosi kain bordir tidak dilakukan khusus, tetapi sering ditampilkan pada acara-acara budaya baik di Surabaya, dan beberapa kota lain. Upaya lain memperkenalkan karyanya melalui situs web Nabilahbordir.com</p>
<p>Di Surabaya, misalnya, karya Henny sempat dipamerkan pada Pasar Malam Tjap Toendjongan tahun 2009 dan 2010, oleh para model dengan memperagakan kebaya encim kepada pengunjung yang menikmati makanan tradisional dan suasana Surabaya dulu.</p>
<p>Selain hadir dalam pameran komunitas pecinta batik dan kain Nusantara, Henny pernah berpameran tunggal di Hotel Majapahit, Surabaya. Berbagai <a title="kebaya encim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kebaya_Encim" target="_blank">kebaya encim</a>, sebutan untuk perempuan peranakan Tionghoa setelah menikah, yang dahulu identik dengan baju kaum ibu yang sudah tua, ditampilkan dengan gaya lebih muda. Motif dan warna dibuat kian beragam meski tetap menggunakan bordir sulam ataupun bordir kerancang.</p>
<p>Kebaya encim tak lagi hanya cocok untuk kaum ibu yang sudah tua, tetapi bisa dikenakan semua kalangan dan tidak mengenal waktu. “Saya buat busana model <strong>kebaya encim</strong> dari kain katun sehingga pantas dipakai sehari-hari dan mulai banyak peminatnya, baik mahasiswi maupun karyawati,” katanya.</p>
<p>Padahal, kata Henny, corak kebaya encim yang ditampilkan bisaanya sudah berumur di atas 50 tahun, bahkan ada replika batik encim usia 100 tahun. Kalau ditampilkan yang asli jelas tidak mungkin karena kondisinya sudah sobek di sana-sini sehingga perlu duplikasi.</p>
<p>Dia pun tidak berhenti pada bordir, empat tahun terakhir ini, istri dari Hasyim Rosyidi (54) ini membagikan keterampilannya membuat kain ikat celup kepada masyarakat di seluruh Surabaya dan 16 kota di Jawa Timur.</p>
<p>Terkadang, para perajin yang didukung badan usaha milik Negara (BUMN), instansi pemerintah, perusahaan swasta dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) ataupun perkumpulan dari sejumlah daerah dating mempelajari bergam teknik ikat celup.</p>
<p>Di tengah kesibukannya menggarap pesanan <strong>kebaya encim</strong> dari sejumlah penjuru kota dan Negara, Henny masih harus berbagi ilmu soal bordir dan teknis pewarnaan pada kain ke beberapa kota di Indonesia. Dia juga tetap membagi waktu untuk menulis buku.</p>
<p>Source : Kompas 12 Januari 2013</p>
<p>Agnes Swetta Pandia/Nina Susilo</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://onlywire.com/btn/button_75104" title="KEBAYA ENCIM" url="http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/kebaya-encim"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/kebaya-encim/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profil Usaha UMKM : BERBISNIS dengan INOVASI</title>
		<link>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-umkm-berbisnis-dengan-inovasi</link>
		<comments>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-umkm-berbisnis-dengan-inovasi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2012 12:07:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing Creative]]></category>
		<category><![CDATA[Mengantar UMKM Menembus Pasar Global]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonial UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[Pupuk Organik UMKM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.thebalina.com/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[Di tangan Samsudiredja Sunadim (61), usaha keluarga berupa produk rajutan yang ditanganinya sejak tahun 1980-an dapat bertahan sampai saat ini. Bahkan, laki-laki sarjana ekonomi itu dapat mengembangkan bisnis dengan memproduksi kain dan cairan pelapis khusus untuk penampung air hingga pupuk organik cair. Samsudiredja juga bersyukur, dari krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997, ancaman kebangkrutan yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Di tangan Samsudiredja Sunadim (61), usaha keluarga berupa produk rajutan yang ditanganinya sejak tahun 1980-an dapat bertahan sampai saat ini. Bahkan, laki-laki sarjana ekonomi itu dapat mengembangkan bisnis dengan memproduksi kain dan cairan pelapis khusus untuk penampung air hingga pupuk organik cair.</p>
<p>Samsudiredja juga bersyukur, dari krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997, ancaman kebangkrutan yang menghantui usahanya justru menjadi titik tolak bisnisnya untuk berkembang.</p>
<p>“Krisis ekonomi tahun 1997 benar-benar masa yang sulit. Kurs dollar terus naik, harga benang juga melambung, sehingga kami harus hati-hati dalam menghasilkan produk tekstil saat itu. Saya pun harus memikirkan pengembangan produk yang benar-benar diminati dan dibutuhkan pasar,” kata Samsudiredja.</p>
<p>Pasar yang lesu ketika krisis ekonomi juga berdampak pada usaha Samsudiredja. Dari sekitar 500 karyawan yang sebelumnya dimiliki, ia harus mengurangi banyak karyawannya sekitar 120 orang.</p>
<p>Ayah Samsudiredja sebelumnya memproduksi produk-produk tekstil, terutama produk rajutan (brokat, vitrase, dan kelambu) di jalan Ujungberung Bandung. Usaha tersebut mulai dirintis tahun 1970-an. Di usianya yang lanjut, sang ayah kemudian menurunkan bisnis keluarga itu kepada Samsudiredja dan ketiga adiknya.</p>
<p>Namun, Samsudiredja enggan mengelola. Dia menyerahkan bisnis tersebut kepada adik-adiknya untuk dilanjutkan. Dia lebih memilih membuka pabrik baru bekerja sama dengan seorang karyawannya tahun 1980. Untuk berproduksi, mereka menyewa tempat di Jalan Arjuna, Bandung, dengan nama PT. Surya Mas.</p>
<p>Dengan kegigihan dan ketekunan, usaha rajutan di tangan Samsudiredja dapat berkembang, hingga kemudian, tahun 1985, dia memutuskan berdiri sendiri. Bermodalkan pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia, Samsudiredja mendirikan PT. Catur Kartika Jaya di desa Cileunyi, Kabupaten Bandung. Dia mendatangkan mesin dari Jerman.</p>
<p>Dari ketiga jenis produk yang dibuat (brokat, vitrase, dan kelambu), kelambu menjadi produk unggulan. Awalnya hanya diproduksi kelambu biasa (tanpa insektisida), kemudian Samsudiredja mencari terobosan dengan merancang kelambu dengan insektisida (permethrin, lambda-chyalothrin, deltamethrin).</p>
<p>Kelambu dengan merek dagang Duranet itu turut menghasilkan hasil baik dalam menurunkan angka malaria. Sebelum dipasarkan, efektivitas kelambu insektisida itu telah melalui uji laboratorium di Loka Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang. Badan Litbang Kesehatan, Kementrian Kesehatan di Ciamis, Jawa Barat, tahun 2006.</p>
<p>Dari hasil uji laboratorium disimpulkan, kelambu celup insetisida itu efektif terhadap nyamuk <i>Anopheles sp</i> sampai dengan 20 kali pencucian karena kelambu tersebut masih mampu membunuh 90 % atau lebih nyamuk.</p>
<p>Produk kelambu Samsudiredja tak saja diminati pasar dalam negeri. Kelambu insektisida itu telah diekspor ke sejumlah Negara, seperti Jepang, Australia, Singapura, Malaysia, Mauritius, Belanda, Kanada, Australia, juga Timur Tengah.</p>
<p>Tahun 2012, perusahaan Samsudiredja mendapat pedanan dari kontraktor yang memangi tender di sejumlah instansi pemerintah , yaitu sekitar 12.000 kelambu untuk lingkungan TNI, 2600 kelambu untuk Pemerintah Provinsi Papua, 1.010 kelambu untuk Pemerintah Kota Bandung, serta 1.250 kelambu untuk Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.</p>
<p>Pasca krisis moneter 1997, laki-laki yang sudah beruban itu juga menangkap peluang lain dengan berinovasi menggunakan teknologi Belgia untuk mengembangkan produk kain dan cairan pelapis khusus (antibocor). Teknologi yang dinamakan Ecodur itu dapat difungsikan untuk menampung air.</p>
<p>“Ide awal Ecodur System untuk tempat penampungan dan pengolahan limbah. Daripada membangun dari beton, kalau gempa dapat rusak parah, dan untuk membangun kembali membutuhkan biaya besar. Dengan metode kain dan cairan pelapis ini akan lebih fleksibel. Ecodur dapat dipakai pula untuk bak penampung air hingga kedalaman 5 meter serta industri perikanan dan udang. Tanah cukup digali, lalu ditutup dengan kain Ecodur ini,” kata Samsudiredja. Perusahaannya tahun ini juga sedang membangun bak penampung air seluas 4.000 meter persegi di Banyumas, Jawa Tengah.</p>
<p>Masa heboh petani yang kerap kesulitan pupuk juga menginspirasi Samsudiredja membuat pupuk organik cair  yang diberi nama Garant. Garant merupakan larutan kultur mikroba menguntungkan, yaitu bakteri <i>Bacillus sp</i>, <i>Lactobacillus sp, Azotobacter sp, Sacharomyces sp</i>, dan kandungan bahan-bahan organik lain.</p>
<p>Keunggulan pupuk organik cair ini diantaranya dapat memperbaiki tanah yang rusak, meningkatkan kesehatan tanaman, mengikat nitrogen di udara dan menghasilkan hormon perangsang tumbuh, mencegah serangan hama dan penyakit tanaman, serta menghasilkan senyawa penting untuk pertumbuhan tanaman.</p>
<p>“Saya bukan ahli teknik atau pertanian, tapi saya banyak membaca buku, literatur, juga belajar dari internet. Saya juga melibatkan peneliti dari sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Universitas Padjajaran, dan Institut Teknologi Bandung. Produk yang kami hasilkan didahului dari riset ilmiah, dan semuanya sudah mendapat hak paten,” ujarnya.</p>
<p>Menurut Samsudiredja, dengan bantuan pupuk organik cair secara periodik, petani pun tanpa harus memiliki tanah yang luas atau pupuk kimia dapat menanam padi dengan hasil bagus.</p>
<p>Padi cukup ditanam di dalam kantong plastic berukuran 40 x 40 cm, yang dapat menghasilkan 375 gram gabah kering per kantong. Dengan kata lain, penggunaan pupuk dengan teknologi Jepang itu lebih menghemat biaya, air dan pupuk urea (kimia). Sebab, umumnya area persawahan yang menggunakan pupuk kimia membutuhkan ribuan liter air. Sementara perbandingan dengan pupuk organik cair ini, 1 liter pupuk dapat menggantikan 1.000 liter air.</p>
<p>Pupuk jenis ini pernah diuji coba pada lahan kentang di Banjarnegara, Jawa Tengah, hingga tiga tahun, dan produksi meningkat dari 26 ton menjadi 52 ton per hektar. Teknologi ini juga telah diterapkan di perkebunan kelapa sawit di Sumatera; pemupukan pohon apel di batu Jawa Timur; tanaman padi di Cianjur dan tanaman jati di Sukabumi Jawa Barat; serta tanaman kakao di Lampung.</p>
<p>Source: Kompas 29 Desember 2012</p>
<p>Oleh   : Samuel Oktora</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://onlywire.com/btn/button_75104" title="Profil Usaha UMKM : BERBISNIS dengan INOVASI" url="http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-umkm-berbisnis-dengan-inovasi"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-umkm-berbisnis-dengan-inovasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profil Usaha UMKM : KREATIVITAS TENUN IKAT</title>
		<link>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-umkm-kreativitas-tenun-ikat</link>
		<comments>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-umkm-kreativitas-tenun-ikat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Dec 2012 11:59:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing Creative]]></category>
		<category><![CDATA[Mengantar UMKM Menembus Pasar Global]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonial UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas tenun ikat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.thebalina.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Pemanfaatan tenun ikat dari Nusa Tenggara Timur terus berkembang. Selain untuk seragam dan tas, juga dibuat menjadi sepatu. Bahan dasar sepatu tetap karet, tetapi pada bagian atas menggunakan tenun ikat disesuaikan dengan selera konsumen. Sebelumnya, tenun ikat hanya dijahit menjadi kemeja, jaket, jas, rok, celana panjang, tas, dompet, taplak meja, hiasan dinding atau syal. Alaudin [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pemanfaatan tenun ikat dari Nusa Tenggara Timur terus berkembang. Selain untuk seragam dan tas, juga dibuat menjadi sepatu.</p>
<p>Bahan dasar sepatu tetap karet, tetapi pada bagian atas menggunakan tenun ikat disesuaikan dengan selera konsumen. Sebelumnya, tenun ikat hanya dijahit menjadi kemeja, jaket, jas, rok, celana panjang, tas, dompet, taplak meja, hiasan dinding atau syal.</p>
<p>Alaudin Kamaludin (51), saat ditemui di Kelurahan Namosaen, Kota Kupang, Oktober lalu, mengatakan, pemanfaatan kain tenun ikat menjadi sepatu diperkenalkan pada 2007. Saat itu Panitia Pentas Paduan Suara Gerejawi asal Nusa Tenggara Timur di Manado meminta Alaudin membuat sepatu dari tenun ikat bermotif sesuai dengan pakaian peserta.</p>
<p>Dari sini usaha membuat sepatu dari tenun ikat terus menggeliat. Kelompok paduan suara, koor, studi banding dari NTT, mahasiswa, atau perkumpulan organisasi tertentu selalu menggumakan sepatu yang serasi dengan warna dan motif baju atau celana.</p>
<p>Jika ada pejabat Negara, duta besar, dan tamu kehormatan yang berkunjung ke NTT, pihak panitia atau pemerintah daerah memesan sepatu tenun ikat. Ada dua merek sepatu yang dihasilkan, yakni Tirai untuk perempuan dan Kintora untuk laki-laki.</p>
<p>“Belum lama ini Pemprov memesan dua pasang, sepasang untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan satu pasang lagi untuk Ny. Ani Yudhoyono saat menghadiri Yubilium 100 tahun Gereja Katolik di Manggarai. Sejumlah pejabat Negara yang berkunjung ke NTT juga selalu mendapatkan sepatu kain tenun ikat ini,”kata Alaudin.</p>
<p>Pria kelahiran Lamakera, Flores Timur, 12 April 1951 ini menuturkan, prospek usaha sepatu dari tenun ikat cukup menjajikan. Sejumlah hotel di Kota Kupang, Kafemenanu, Atambua, Manggarai, Labuan Bajo, Ende, dan Maumere memesan sepatu atau sandal tenun ikat ini. Jumlahnya bervariasi 50-200 pasang. Sepatu dipajang sebagai cendera mata khas NTT. Adapun sandal untuk keperluan para tamu yang menginap di hotel.</p>
<p>Alaudin mengakui kesulitan melayani permintaan sandal dari hotel. Tidak mudah membuat sandal dalam jumlah ratusan pasang dalam waktu 20-30 hari karena ia masih mengerjakan secara manual.</p>
<p>“Kalau ada format sesuai ukuran kaki manusia, mulai dari kecil, sedang sampai terbesar, tentu saya kerjakan dalam waktu singkat. Berapa pun permintaan tetap terlayani terutama permintaan sandal di hotel-hotel ikut mempromosikan melalui sandal ini,”kata Alaudin.</p>
<p>Harga satu pasang format dari berbagai ukuran adalah Rp 200.000. format itu tidak tersedia di Kupang, kecuali di Surabaya. Ia membutuhkan 6-7 format dengan ukuran berbeda. Alaudin kesulitan modal untuk mendatangkan format sepatu.</p>
<p>Dengan cara manual, ia hanya mengerjakan 2-3 pasang sepatu per hari, sedangkan sandal 4-5 pasang per hari. Mulai dari pengukuran, pemotongan bahan, hingga penyelesaian dikerjakannya sendiri. Sekitar 30 pasang sepatu dipajang di rumahnya sebagai contoh bagi konsumen yang dating.</p>
<p>Sejak 2005, Alaudin mengajukan permohonan bantuan ke sejumlah instansi pemerintah, tetapi tidak dilayani.  Beberapa staf instansi justru meminta bagian jika bantuan dikucurkan, ia pun menolak mendapatkan bantuan dengan cara yang tak semestinya.</p>
<p>Alaudin tidak patah arang. Dia terus berupaya mengajarkan semua orang NTT bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada untuk membangun daerahnya. Menghasilkan sesuatu dari usaha dan jerih payah pribadi jauh lebih membahagiakan daripada mendapat dukungan dana pemerintah, tetapi kemudian melahirkan masalah karena korupsi, kolusi dan nepotisme.</p>
<p>Puluhan ruang pamer tenun ikat di Kota Kupang, Kefamenanu, dan Ende memesan sepatu khas buatan Alaudin. Harga sepatu mulai Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per pasang. Sepatu ini dapat dipadukan dengan baju, rok atau celana bahkan topi berbahan tenun ikat. Tenun ikat untuk sepatu diambil dari jenis berkualitas. Sepatu juga dilapisi kulit sintetis sehingga lebih tahan lama dan tidak mudah basah saat kena air.</p>
<p>Suami dari Lilis Sutisno ini mengatakan, pihak Timor Leste sudah memesan sepatu jenis ini, tetapi belum sempat terlayani. Ia kesulitan alat pemotong dan format sepatu. Semua dilakukan manual sehingga butuh waktu cukup lama.</p>
<p>Bahan dasar sepatu berupa karet didatangkan dari Surabaya. Namun khusus sandal hotel dibuat sendiri di Kupang karena diambil dari jenis karpet tebal yang lembut. Bagian atas sandal berupa kain tenun ikat yang dibeli dari petenun Rp 25.000 per kain.</p>
<p>Syal sepanjang 100 cm dan lebar 10 cm bisa menghasilkan dua pasang sepatu atau sandal.</p>
<p>Biaya produksi satu pasang sandal Rp 75.000, sedangkan sepatu Rp 100.000 per pasang. Sandal dijual dengan harga Rp 80.000 per pasang, sedangkan sepatu dijual Rp 125.000-Rp 300.000 per pasang. Jika ada alat potong, harga sandal menjadi Rp 40.000-Rp 50.000 per pasang.</p>
<p>Ayah dari Fitri, Taufik, Ayu, Iqbal, dan Rifki ini dibantu empat pekerja. Upah pekerja Rp 300.000 per bulan, belum termasuk transportasi dan makan setiap hari.</p>
<p>“Kalau mereka punya keahlian atau minimal bisa mengerjakan setengah jadi, lalu saya finishing, tentu saya gaji sesuai upah minimum Kota Kupang, yakni Rp 830.000 per bulan. Namun, keterampilan mereka ini nol, diajari pun sulit. Mereka drop out dari SMP dan SMA. Saya hanya membantu mereka,”ujarnya.</p>
<p>Alaudin belajar membuat keterampilan membuat sepatu di Sidoarjo Jawa Timur, pada 1994-1995. Ia membiayai sendiri pelatihan selama satu tahun di Sidoarjo.</p>
<p>“Saya sedang mendesain agar kulit luar spring bed atau sofa dari kain tenun ikat. Tentu ini harus diupayakan agar kualitas terjaga. Soal spring bed dan sofa disesuaikan dengan selera konsumen,”kata Alaudin.</p>
<p>Source : Kompas, 22-12-2012</p>
<p>Oleh     : Kornelis Kewa Ama</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://onlywire.com/btn/button_75104" title="Profil Usaha UMKM : KREATIVITAS TENUN IKAT" url="http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-umkm-kreativitas-tenun-ikat"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-umkm-kreativitas-tenun-ikat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profil UMKM : RAUP UANG dari SABUT KELAPA</title>
		<link>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-umkm-raup-uang-dari-sabut-kelapa</link>
		<comments>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-umkm-raup-uang-dari-sabut-kelapa#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2012 07:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing Creative]]></category>
		<category><![CDATA[Mengantar UMKM Menembus Pasar Global]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonial UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[Profil UMKM : RAUP UANG dari SABUT KELAPA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.thebalina.com/?p=505</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang memandang sabut kelapa hanya sebagai sampah. Namun, sabut kelapa menjadi tambang uang bagi Ady Indra Pawennari (39) sejak tiga tahun terakhir. Ady mendapat omzet hingga Rp 135 juta per bulan dari pengolahan sabut kelapa. Pergulatan Ady disabut kelapa bermula dari kejenuhan pada bisnis konstruksi di Kepulauan Riau. Namun, bisnis itu sarat spekulasi dan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian orang memandang sabut kelapa hanya sebagai sampah. Namun, sabut kelapa menjadi tambang uang bagi Ady Indra Pawennari (39) sejak tiga tahun terakhir. Ady mendapat omzet hingga Rp 135 juta per bulan dari pengolahan sabut kelapa.</p>
<p>Pergulatan Ady disabut kelapa bermula dari kejenuhan pada bisnis konstruksi di Kepulauan Riau. Namun, bisnis itu sarat spekulasi dan butuh modal besar. “Lama-lama saya jenuh seperti itu. Saya mulai cari usaha lain,” ujar pria kelahiran Sulawesi Selatan itu.</p>
<p>Seorang relasi mengajaknya mencari daerah penghasil kelapa. Awalnya, ia menyangka akan diajak berbisnis minyak kelapa. Sudah terbayang persaingan di bisnis yang sudah banyak pemain itu. “Rupanya dia mencari limbah dari pabrik minyak kelapa,” ujar Direktur PT Giant Energy Indonesia itu.</p>
<p>Ia diajak mencari sabut kelapa untuk diolah dan dipasarkan ke China. Pencarian membawanya ke Kecamatan Sungai Guntung. Indragiri Hilir. Di salah satu kabupaten di Riau tersebut, dihasilkan 3,6 miliar butir kelapa per tahun.</p>
<p>Di sana hanya daging kelapa yang diambil. Batok dan sabutnya menjadi sampah. Sebagian dipakai untuk menimbun rawa. Sebagian lagi dibakar dan menghasilkan polusi. “Rupanya di Negara lain, sabut kelapa diolah menjadi produk yang lebih bernilai,” ujarnya.</p>
<p>Sabut kelapa diolah menjadi serat sabut (coco fiber) dan serbuk sabut (coco peat). Serat untuk industry kasur dan kursi, sedangkan serbuk untuk media tanam. “Karena belum banyak pemain dan sudah ada pasar, saya masuk ke bisnis itu,” ujarnya.</p>
<p>Akhir tahun 20087, Ady banting setir ke sabut kelapa yang sama sekali baru. Ia juga meninggalkan Kepulauan Riau yang menjadi lahan kerjanya. “Sebelum di bisnis konstruksi saya kerja macam-macam di Kepri,” ujarnya.</p>
<p>Dari Tanjung Pinang dan Batam yang relative maju, Ady pindah ke Sungai Guntung. Meski masuk Provinsi Riau, kecamatan itu lebih mudah diakses dari Kepri. Kondisinya seperti keadaan Batam tahun 1980 an. Banyak rawa, sepi, di mana-mana pohon kelapa. Tetapi itulah tempat usaha baru saya  dan harus dikembangkan,” ujarnya.</p>
<p>Di Sungai Guntung, Ady mendirikan pabrik pengolahan sabut kelapa. Karena belum paham, ia percayakan bisnis kepada relasinya. Salah satu bentuk kepercayaannya, Ady mau mendatangkan mesin pengolah dari China. “Sayang, kemampuan dan umurnya tidak sesuai dengan promosi,” ujarnya.</p>
<p>Kapsitas produksi tak sampai 40 % dari promosi di brosur. Usia mesin kurang dari setahun. “Itu resiko bisnis baru sekaligus pelajaran  agar tidak lagi ambil mesin dari sana,” ujarnya.</p>
<p>Ady kian lebih paham seluk beluk bisnis sabut kelapa. Kini, dia paham ada mesin pengolah buatan dalam negeri. Kualitasnya lebih baik daripada mesin impor. “Sampai sekarang mesinnya masih beroperasi,”ujarnya.</p>
<p>Dengan mesin itu, ia menghasilkan sekitar 50 ton serat sabut kelapa. Ady menyerap hingga 10.000 butir sabut kelapa. “Kapasitas pabrik saya belum besar. Belum bias menyerap semua sabut kelapa di Sungai Guntung yang sekitar 30 juta butir per tahun,” ujarnya.</p>
<p>Selain Ady, ada tiga pabrik pengolah sabut kelapa di Sungai Guntung. Mereka punya pasar masing-masing. Ady mengeskpor produknya ke China lewat Batam. Sejumlah pabrik kasur dan kursi di China menjadi langganannya.</p>
<p>Namun, urusan Ady belum selesai meski ekspor serat sabut kelapa lancer. Sedikitnya dua hal harus dipikirkan. Pertama, harga serat sabut kelapa di pasar global terus turun. Di awal tahun, pembeli membayar rata-rata 400 dollar AS per ton serat sabut kelapa. Kini harga rata-rata 300 dollar AS per ton</p>
<p>Kedua pabriknya belum bias memasarkan serbuk sabut kelapa. Padahal, jumlahnya lebih banyak daripada serat sabut. Dari setiap butir kelapa dihasilkan 65 % serbuk dan 25 % serat sabut. Sisanya hilang dalam proses produksi. “Saya berusaha memasrkan serbuk sabut sebagai media tanam,” ujarnya.</p>
<p>Pilihan pasar itu tak lepas dari hasil kunjungannya ke Bdan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Di sana ia paham serbuk serat kelapa media tanam paling tepat untuk lahan kritis. Apalagi BPPT mengembangkan bibit yang cocok untuk lahan kritis. “Saya bidik reklamasi lahan bekas tambang,” ujarnya.</p>
<p>Bersama Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia, Ady menggandeng asosiasi perusahaan tambang dan sejumlah pemerintah daerah lokasi tambang. Mereka sepakat membeli serbuk serat kelapa yang sudah diolah menjadi media tanam. “Serbuk serat yang bias menyimpan air dibentuk menjadi briket. Cocok untuk lahan bekas tambang yang sulit air,” tuturnya.</p>
<p>Oleh       : Kriz Razianto Mada</p>
<p>Sumber : Kompas, Sabtu 1 Desember 2012</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://onlywire.com/btn/button_75104" title="Profil UMKM : RAUP UANG dari SABUT KELAPA" url="http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-umkm-raup-uang-dari-sabut-kelapa"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-umkm-raup-uang-dari-sabut-kelapa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profil Usaha dari Kue sampai Abon Lele</title>
		<link>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-dari-kue-sampai-abon-lele</link>
		<comments>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-dari-kue-sampai-abon-lele#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Nov 2012 05:44:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing Creative]]></category>
		<category><![CDATA[Mengantar UMKM Menembus Pasar Global]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonial UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Usaha dari Kue sampai Abon Lele]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.thebalina.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Hendrati Sri Kristiyaningsih (46), pegawai negeri sipil di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, punya jiwa wirausaha yang kuat. Apa pun dia lakoni, mulai dari membuat aneka kerajinan tangan, membuat penganan kecil, hingga mengawali pembuatan abon lele. Jiwa berwirausaha perempuan yang akrab disapa Hendrat itu berawal saat mendapat perlakuan berbeda dibandingkan dengan ketujuh saudaranya. Semua kakak dan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hendrati Sri Kristiyaningsih (46), pegawai negeri sipil di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, punya jiwa wirausaha yang kuat. Apa pun dia lakoni, mulai dari membuat aneka kerajinan tangan, membuat penganan kecil, hingga mengawali pembuatan abon lele.</p>
<p>Jiwa berwirausaha perempuan yang akrab disapa Hendrat itu berawal saat mendapat perlakuan berbeda dibandingkan dengan ketujuh saudaranya. Semua kakak dan adiknya kuliah hingga tuntas. Hanya dia yang tidak mengecap perguruan tinggi.</p>
<p>Oleh karena itu, sejak kecil, kemandirian dia tumbuh. Beruntung banyak orang peduli di sekitarnya yang bersedia mengajarkan banyak hal. Dia mendapat banyak informasi dan ilmu dari teman, guru, dan tetangga, seperti memasak, menjahit, serta membuat aneka keterampilan.</p>
<p>Karena tak kuliah, Hendrat menjual kalung pemberian ibunya untuk bisa mengikuti kursus menjahit di Salatiga. Waktu berlalu, Hendrat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Boyolali dan menikah dengan Eko Agus Sunanto (53) yang juga PNS.</p>
<p>Mengandalkan pendapatan dari bekerja, sementara kebutuhan hidup bersama enam anak terus meningkat, membuat Hendrat mulai menerapkan keterampilan yang dia pelajari. Dia mulai menjual aneka kerajinan tangan, seperti hantaran lamaran atau pernikahan, juga membuat makanan ringan dari bahan baku lkcal seperti singkong, ubi, kedelai dan jagung.</p>
<p>Hendrat juga membeli oven seharga Rp 10 juta dengan pinjaman dari Bank Pembangunan Daerah jateng untuk mendukung usahanya. Hingga kini, produknya yang diberi nama Asaqu itu dijual di beberapa kota, seperti Boyolali, Salatiga, Solo, Yogyakarta, Semarang dan Jakarta.</p>
<p>Permintaan paling besar menurut Hendrat adalah emping garut. Ia dan tiga tenaga kerjanya dapat memproduksi 1,5 kuintal emping garut setiap bulan. Demikian juga dengan singkong presto, rengginang singkong, dan keripik yang lain.</p>
<p>Sekitar tahun 2000, ketika Pemerintah Kabupaten Boyolali berniat meluncurkan program Kampung Lele di DesaTegalrejo, Kecamatan Sawit, Hendrat yang  dikenal pintar memasak diminta mengolah lele menjadi penganan yang diharapkan dapat mengangkat produksi lele dari Boyolali.</p>
<p>Maka, total Hendrat mencari akal. Dia ingin membuat makanan olahan yang tahan lama. Berdasarkan hasil perundingan dengan suami, dia memutuskan untuk membuat abon lele.</p>
<p>Pencarian dia tidak terhenti sampai di situ. Dia berusaha menemukan resep agar abon lele yang dia buat bisa menyerupai abon sapi, baik tekstur maupun rasanya. Sebab, ia pernah menemukan abon ikan yang bentuknya tidak berserat lebih seperti serbuk.</p>
<p>Percobaan demi percobaan dilakukan dan akhirnya resep didapat. Untuk membuat abon lele berserat seperti abon sapi, Hendrat hanya menggunakan daging dari lele besar berbobot sekitar 3 kilogram per ekor.</p>
<p>Temuannya itu lalu sering dipublikasikan di majalah-majalah perikanan. Dia juga diminta mengajari warga Kampung Lele cara membuat abon lele. Semua dia lakoni tanpa khawatir idenya dicontek atau diterapkan secara massal. “Saya hanya berpikir, temuan saya ini memang untuk masyarakat luas. Jadi, tidak apa-apa. Resep juga saya beritahu. Bagi orang yang pintar masak pasti langsung bisa,” ujarnya.</p>
<p>Dari coba-coba, ternyata banyak pesanan berdatangan. Hendrat memang tidak memproduksi rutin abon lele karena waktunya tersita sebagai PNS. Dia sempat mengajukan pengunduran diri karena ingin fokus berwirausaha, tetapi tidak disejutui atasannya.</p>
<p>Sampai saat ini, Hendrat hanya memproduksi abon lele untuk pesanan. Rata-rata per bulan dia memproduksi abon lele hingga 50 kg, yang dibuat dari 150 kg lele segar. Abon lelenya sudah sampai Malaysia dan Singapura.</p>
<p>Kini, permintaan datang dari Amerika. Hendrat sudah mengirim produk contoh sebanyak 1 kg yang berlanjut dengan pengiriman pertama sebanyak 25 kg abon lele lewat eksportir di Semarang.</p>
<p>“Mereka selanjutnya minta dikirimi 1 kuintal per bulan. Namun saya belum menyanggupi karena bahan baku terbatas. Sulit mendapat lele ukuran besar karena biaya pemeliharaannya mahal,”tutur Hendrat.</p>
<p>Kini dia juga “iseng” membuat baju boneka dari kantong plastik bekas. Boneka perempuan dan bajunya dijual Rp 40.000. sekilas tak terlihat baju rajut yang dipakai boneka itu terbuat dari kantong plastik bekas.</p>
<p>Karena tidak bisa diam dan selalu berpikir untuk memanfaatkan sesuatu, dia bahkan membuat penyekat ruang dari botol-botol bekas susu fermentasi. Botol-botol plastik bekas dikumpulkan kemudian dirangkai menjadi penyekat ruang, dipadukan dengan hiasan dari Koran bekas yang dipilin dan dirangkai serat alam.</p>
<p>Hendrat mengaku menikmati menjadi wirausaha. Selain bisa mendapat penghasilan lebih, dia juga mampu menolong orang lain. Namun pekerjaan sebagai PNS juga tidak dapat ditinggalkan. Namun bagi Hendrat yang terperting adalah banyak orang merasakan manfaat dari yang dia lakukan.</p>
<p>Hingga kini,dia kedatangan orang yang ingin belajar berwirausaha. Kalau dihitung, menurut Hendrat, jumlahnya bisa lebih dari 1.000 orang.</p>
<p>“Orang yang mau belajar usaha ke tempat saya gratis. Sebab dulu saya merasakan bagaimana manfaat belajar dari orang lain, tanpa juga membayar,”kata Hendrat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Source : Amanda Putri, KOMPAS, 24 November 2012.</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://onlywire.com/btn/button_75104" title="Profil Usaha dari Kue sampai Abon Lele" url="http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-dari-kue-sampai-abon-lele"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/profil-usaha-dari-kue-sampai-abon-lele/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NILAI TAMBAH ECENG GONDOK MENJADI PRODUK BERNILAI EKSPOR</title>
		<link>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/nilai-tambah-eceng-gondok-menjadi-produk-bernilai-ekspor</link>
		<comments>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/nilai-tambah-eceng-gondok-menjadi-produk-bernilai-ekspor#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Nov 2012 07:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Mengantar UMKM Menembus Pasar Global]]></category>
		<category><![CDATA[Testimonial UMKM]]></category>
		<category><![CDATA[ENCENG GONDOK]]></category>
		<category><![CDATA[NILAI TAMBAH ECENG GONDOK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.thebalina.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi rumah tinggalnya dengan Waduk Kebraon, kecamatan Karangpilang, Surabaya, Jawa Timur, sangat dekat. Aktivitas banyak orang memotong dan mengeringkan eceng gondok memotivasi Wiwit Manfaati (46) mengolahnya menjadi produk kerajinan dengan nilai tambah. Awalnya eceng gondok (Eichornia crassipes) kering dijual oleh sekelompok orang ke beberapa  kota di Indonesia bahkan diekspor ke Korea Selatan dan Jepang. Setiap [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Lokasi rumah tinggalnya dengan Waduk Kebraon, kecamatan Karangpilang, Surabaya, Jawa Timur, sangat dekat. Aktivitas banyak orang memotong dan mengeringkan eceng gondok memotivasi Wiwit Manfaati (46) mengolahnya menjadi produk kerajinan dengan nilai tambah.</p>
<p>Awalnya eceng gondok (<em>Eichornia crassipes</em>) kering dijual oleh sekelompok orang ke beberapa  kota di Indonesia bahkan diekspor ke Korea Selatan dan Jepang. Setiap hari tidak kurang dari dua truk berisi eceng gondok kering, bahkan sudah diasap, diangkut ke Lamongan, Jakarta, dan Bali. Dalam kondisi kering, eceng gondok dijual dengan harga Rp 4.000 – Rp 5.000 per kilogram.</p>
<p>Dengan kondisi kering dan siap diolah, pelaku usaha kerajinan berbahan dasar eceng gondok tak perlu repot memotong, membersihkan, dan mengeringkan. Setiap hari pula eceng gondok kering siap diolah tersedia dan dijual secara bebas di pinggir waduk tersebut.</p>
<p>Kondisi ini mengusik Wiwit bersama suaminya, Supardi (46). Pada 2007, mereka mulai mencoba keberuntungan dengan membuat sandal dari eceng gondok. Alas kaki itu semula dijual ke tetangga dan kerabat ketika ada acara pertemuan. Saat itu, harganya sangat murah. Dengan Rp 5.000 sudah didapat sepasang sandal layak pakai di luar rumah.</p>
<p>Dengan promosi secara gethok tular (dari mulut ke mulut), karya Wiwit makin dikenal kalangan luas, mulai tingkat kelurahan hingga internasional. “Saya terus belajar membuat  kerajinan dengan bahan utama eceng gondok karena berlimpah dan pasti selalu tersedia selama Waduk Kebraon difungsikan,” katanya.</p>
<p>Hasil karyanya juga mulai dipesan oleh hotel dan rumah sakit di Surabaya dalam jumlah besar. Dalam perjalanan mempromosikan produknya ke sejumlah instansi, Wiwit bahkan mendapat tawaran secara gratis, baik dari Pemerntah Kota Surabaya maupun swasta, untuk ikut pelatihan. Wiwit pun tak lupa mengajak ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya untuk ikut pelatihan mengolah eceng gondok agar lebih kreatif karena dari usaha kerajinan bisa menjadi sumber penghasilan utama keluarga.</p>
<p>Terus berinovasi dan tak mudah putus asa ditanamkan oleh Wiwit yang belakangan didapuk menjadi instruktur pelatihan calon wirausaha baru oleh Pemkot Surabaya. Beberapa pelaku usaha mikro dan kecil yang sudah sukses menggarap pasar, termasuk Wiwit, hingga kini menjadi instruktur tetap pelatihan bagi kaum perempuan dari keluarga miskin, mantan pekerja seks komersial, dan korban kekerasan dalam rumah tangga di Surabaya. Peserta diberi pelatihan keterampilan sesuai minat dan akan dibekali modal kerja untuk usaha baru.</p>
<p>Di tengah kesibukan menjadi pelatih, juri lomba produk pelaku usaha kecil dan menengah, menggarap pesanan, dan ikut pameran, tak membuat Wiwit berhenti menciptakan produk lebih bermutu sesuai selera pasar, terutama tas untuk perempuan, tempat tisu, dan alas lantai.</p>
<p>Usaha Wiwt bersama Supardi mengajak kaum perempuan di perumahan Kebraon indah Permai hngga kni tak pernah pudar. Karya mereka tak lagi jago kandang karena sudah menerobos pasar ekspor meski volume belum besar. Karena itu, mereka juga fokus menggarap  pesanan dalam negeri, tidak hanya alas kaki, tetapi beragam seperti tempat tisu, lampu hias, pajangan, piring, tempat permen, tempat buah, alas lantai dan mebel.</p>
<p>Produk kerajinan juga dipercantik dengan biji-bijian, ranting kering, daun kering, limbah kulit, batik, dan sulaman. Perajin sempat menggunakan pita, kain dan plastik pada produk kerajinan. Namun pasar kurang bermnat jika kerajinan eceng gondok dicampur hiasan hasil pabrikan.</p>
<p>Perajin memadukan produk kerajinan eceng gondok dengan bahan baku alami dengan harga Rp 20.000 – Rp Rp 400.000 per item. Harga tas perempuan Rp 50.000 – Rp 100.000 karena meski terbuat dari eceng gondok jika terkena air tidak langsung rusak karena dilapisi melamin.</p>
<p>Wiwit yang membutuhkan 400 – 500 kilogram eceng gondok kering setiap bulan, tak kesulitan ketika pesanan menumpuk. Sebagai pelaku usaha, dia rutin membagi ilmu membuat kerajinan tangan dari eceng gondok kepada keluarga miskin. Pemkot Surabaya menggandeng pelaku usaha yang sudah teruji mengembangkan usaha dan produk ekspor untuk membina keluarga miskin. “Binaan saya terus bertambah. Jadi kalau banyak pesanan, saya tinggal membagi pekerjaan, terutama untuk produk yang ditambah pernak-pernik, sehingga yang dapat rejeki pun  banyak,” ujarnya.</p>
<p>Di tengah kesibukan berbagi ilmu, Wiwit terus menciptakan karya berbahan dasar eceng gondok. Saat ini ia banyak menerima pesanan berupa mebel dan partisi bahkan memesan souvenir pernikahan berupa tempat tisu atau pigura. “Mebel dan karpet dipesan oleh konsumen dari Jepang,” kata perempuan yang rutin mengikuti pameran, bak di Surabaya maupun di kota lain di Indonesia.</p>
<p>Mimpi menjadikan Kebraon sebagai sentra industri eceng gondok kini menjadi kenyataan. Kaum perempuan yang sudah mengembangkan industri kerajinan di rumah ini, semakin terampil karena terus berinovasi.</p>
<p>“Dua tahun lalu setiap dapat order dalam jumlah besar saya malah kebingungan karena jumlah perajin minim. Kini berapapun jumlah ordernya, pasti saya sanggupi dan pasti tepat waktu dengan kualitas bagus,” katanya.</p>
<p>Perempuan yang juga kader lingkungan di Kelurahan Kebraon, Kecamatan Karangpilang itu hingga sekarang tidak pernah berhenti melatih ibu rumah tangga dan pelajar.</p>
<p>Menurut dia, pekerjaan membuat kerajinan dari eceng gondok membutuhkan ketelatenan dan ketelitian agar hasilnya bagus. “Jadi, dari 20 orang yang dilatih, syukur satu diantaranya bertahan dan bisa menjad pengusaha,” tutur ibu tiga anak ini.</p>
<p>Minimal, kata Wiwit, bahan baku tersedia dan tinggal dolah. Meski demikian, akhir-akhir ini perajin sering berjibaku dengan pabrik yang membutuhkan eceng gondok dalam jumlah besar untuk dibuat mebel atau barang lain. Perajin kesulitan memperoleh eceng gondok.</p>
<p>Misalnya adalah mengupayakan kerajinan eceng gondok bisa menggurita karena pasar domestik dan internasional sangat terbuka dengan produk kerajnan berbahan alami. Modal pun tak perlu besar karena yang paling penting adalah kemauan untuk mengolah eceng gondok menjadi produk bernilai.</p>
<p><strong>Source : Agnes Swetta Pandia, Kompas Mnggu 18 November 2012</strong></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://onlywire.com/btn/button_75104" title="NILAI TAMBAH ECENG GONDOK MENJADI PRODUK BERNILAI EKSPOR" url="http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/nilai-tambah-eceng-gondok-menjadi-produk-bernilai-ekspor"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.thebalina.com/usaha-mikro-kecil-menengah/nilai-tambah-eceng-gondok-menjadi-produk-bernilai-ekspor/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
